Text
Topeng: 150 Puisi Slamet Riyadi Sabrawi
Banyak penyair menuliskan hal besar-besar dalam puisinya. Pikiran, suasana, dan ke-aku-an yang didahsyatkan. Puisi kemudian menjadi huble, bagai mainan busa sabun di masa kanak-kanak. Menggelembung di udara kemudian, "plup..." pecah. Satu kesia-siaan yang diakui banyak penyair dalam puisi-puisinya.
Seperti kesia-siaan bayangan besar manusia tentang hidup dan kehidupan yang terus diangankan sambil disesali. Slamet Riyadi Sabrawi barangkali contoh dari sedikit penyair yang memandang hidup dan kehidupan apa adanya, tidak menggelembungkan dan tidak mengecilkan nilai. Sederhana tapi tidak terjatuh menjadi keseharian. Bahkan seperti angin yang masuk ke setiap ruang. Dan hanya orang-orang yang mengenal kesederhanaan yang bisa merasakan kehadiran angin dalam pertemuan meruang. Satu penyadar bahwa dalam ruang puisi berdiam manusia, bukan sekadar kata. EKO TUNAS, sastrawan dan aktor asal Tegal kini bermukim di Semarang.
Membaca buku puisi TOPENG ini, saya merasa disajikan berbagai bentuk wajah. Dan wajah wajah itu bergantin hadir di hadapan saya terjelma dari kata-kata yang berhasil diciptakan oleh Slamet Riyadi Sabrawi. Sebuah transformasi yang tak berkesudahan: menyatakan getir dengan sebuah purnama, mengutarakan cinta dengan sosok Adam, menyampaikan kecemasan dengan gunung-gunung, dan meledakkan amarah dengan air mata. Bukankah seorang seniman harus mengolah rasa? Maka di buku ini, saya menemukan berbagai bentuk transformasi yang kreatif dari sebuah pengamatan yang investigatif, membaca kenyataan juga fenomena. Transformasi rasa dengan menantang diri sendiri untuk menciptakan pengetahuan, menjadi pengetahuan yang memiliki rasa. Demikianlah, hingga begitu banyak wajah di buku ini telah menghampiri saya dan mengajak saya untuk tidak hanya sekedar mengenalinya. SUSY AYU, penyair dan cerpenis, tinggal di Jakarta.
Puisi-puisi Slamet Riyadi Sabrawi menjadi menarik dan penting justru karena dirinya. Saya mengenalnya sebagai orang yang rela mengorbankan dirinya untuk tetap bersahaja. SRS konsisten menempatkan dirinya antara tindakan berpuisi, puisi sebagai aksi, dan bagaimana ia mempraktikkan hidupnya. Hal itu diperlihatkan dalam puisinya dengan cara bagaimana ia mengambil posisi getir di dan dalam alam semesta ini. Banyak orang kemudian memberikan stigma bahwa itu merupakan kegagalan penyair dalam mengelola persoalan ekonomi, atau politik, atau bahkan sosial. Akan tetapi, dalam sudut pandang yang lain, hal itu justru merupakan prestasi bagi Slamet Riyadi Sabrawi karena dia tidak gagap dalam stigma tersebut. Slamet tidak takluk terhadap stigma, dan dengan syahdu ia menempatkan dirinya sebagai penyair yang patah hati secara kultural sambil tetap memanggul melodramatiknya kehidupan. APRINUS SALAM, Dosen Pasca Sarjana FIB UGM, tinggal di Yogyakarta.
Tidak tersedia versi lain